Monday, April 30, 2007

pembelajaran fisika

Pembelajaran Fisika Belum Optimal
Sebagian besar guru mata pelajaran fisika di Indonesia miskin kreativitas, wawasan, pengetahuan, serta tidak progresif. Selain itu, hasil penelitian pendidikan dalam proses pembelajaran belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas calon guru fisika.
"Semua itu pada akhirnya akan menyebabkan proses pembelajaran fisika di sekolah menjadi kering dan hampa serta tidak bermakna," kata Prof Dr Mundilarto pada pidato pengukuhan Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), akhir pekan lalu, di Yogyakarta. Akibatnya, menurut dia, fisika yang sebenarnya mudah dipelajari berubah menjadi mata pelajaran yang sulit dipahami dan tidak disenangi sebagian besar siswa. Itu, sambungnya, bisa terjadi karena guru tidak menggunakan pendekatan atau strategi pembelajaran yang tepat.
"Secara umum, rendahnya rata-rata perolehan nilai pada mata pelajaran fisika mengindikasikan proses pembelajarannya belum dapat berlangsung sebagaimana mestinya," ujar Mundilarto. Kondisi itu antara lain disebabkan konsep fisika selama ini lebih sering disampaikan guru kepada siswa sebagai fakta, bukan sebagai peristiwa atau gejala alam yang harus diamati, diukur, dan didiskusikan. Ia mengatakan, sebagai mata pelajaran, fisika sebenarnya dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa baik aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
"Karena itu, fisika sebaiknya dipelajari dengan cara tersebut (sebagai peristiwa atau gejala alam) sehingga memungkinkan untuk dapat digunakan dalam pemecahan masalah nyata yang dijumpai siswa sehari-hari," katanya. Terkait pemberlakuan Kurikulum 2004 untuk tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA serta kebijakan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) secara bertahap, ia berharap pembelajaran fisika di sekolah diharapkan mampu lebih memberdayakan potensi siswa melalui proses kreatif, variatif, inovatif, dan kondusif. Kebijakan itu, ia bilang, merupakan bagian dari kebijakan tentang reformasi dan desentralisasi bidang pendidikan.
"Daerah dan sekolah serta guru diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing," katanya.Ia menambahkan, pemerintah juga telah menyelenggarakan penataran dan pelatihan bagi guru serta ujicoba terbatas tentang implementasi Kurikulum 2004 pada 132 SMA baik negeri maupun swasta yang menjangkau seluruh propinsi di Indonesia sejak tahun ajaran 2002/2003 hingga 2004/2005. Namun, karena kondisi masing-masing daerah, sekolah, dan kemampuan guru fisika bervariasi, sampai sekarang pelaksanaan pembelajaran fisika sebagaimana mestinya masih menghadapi banyak kendala.

fisika

fisika itu asyik loch............ masa sich????????????ga percaya datang aja ke UIN jakarta????? oke dech..........